Proyek ini merupakan kegiatan monitoring dan pendampingan teknis penurunan NRW (Non-Revenue Water) yang dilaksanakan melalui skema Kemitraan Solidaritas PERPAMSI, dengan PDAM Kota Malang dan PDAM Kota Sukabumi. Dengan fokus pada identifikasi kebocoran fisik, pengendalian tekanan jaringan, serta peningkatan efektivitas pengelolaan distribusi air minum.
Proyek Monitoring dan Pendampingan Penurunan NRW (Non-Revenue Water) ini merupakan upaya strategis untuk membantu Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi dalam mengendalikan kehilangan air melalui pendekatan teknis yang terukur, sistematis, dan berbasis data lapangan. Kegiatan dilaksanakan melalui skema Kemitraan Solidaritas PERPAMSI dengan melibatkan kolaborasi antar Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang, guna mentransfer praktik terbaik (best practice) dalam pengelolaan jaringan distribusi air minum. Fokus utama proyek diarahkan pada evaluasi kondisi jaringan eksisting, identifikasi kebocoran fisik, pengendalian tekanan jaringan, serta peningkatan efektivitas pengelolaan NRW.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya indikasi kebocoran pada beberapa ruas pipa utama dan pipa distribusi, serta potensi perbaikan signifikan melalui pengendalian tekanan yang lebih stabil. Proyek ini tidak hanya menghasilkan temuan teknis, tetapi juga memberikan rekomendasi tindak lanjut yang aplikatif, mencakup perbaikan kebocoran, penataan ulang PRV, serta strategi lanjutan untuk pemantauan kebocoran di wilayah berisiko tinggi.
Secara keseluruhan, proyek ini memberikan fondasi teknis yang kuat bagi Perumda Air Minum dalam upaya penurunan NRW secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kapasitas internal dalam pengelolaan jaringan distribusi berbasis data dan praktik lapangan yang teruji.
Sebelum pelaksanaan tindakan teknis penurunan NRW, dilakukan diagnostik awal untuk memahami kondisi eksisting sistem distribusi air minum di wilayah pelayanan Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi. Tahap ini bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata mengenai karakteristik jaringan, pola aliran, tekanan, serta potensi kehilangan air yang terjadi di lapangan. Diagnostik awal menjadi fondasi utama dalam penentuan strategi teknis, sehingga setiap tindakan yang dilakukan bersifat tepat sasaran, terukur, dan berbasis data lapangan.
1.
3.
4.
Tahap diagnostik ini memastikan bahwa seluruh langkah teknis selanjutnya dilakukan berdasarkan kondisi riil jaringan, bukan asumsi perencanaan.
Tahap Monitoring & Identifikasi Lapangan merupakan inti dari pelaksanaan proyek penurunan NRW, di mana seluruh analisis dan tindakan teknis dilakukan berdasarkan data aktual hasil pengukuran langsung di jaringan distribusi. Pada tahap ini, kegiatan difokuskan pada pemantauan debit dan tekanan, identifikasi kebocoran, serta evaluasi kinerja jaringan pada kondisi operasional nyata.
1.
2.
3.
4.
Pelaksanaan Step Test untuk Penentuan Lokasi Bocor
Pengujian aliran dengan metode step test melalui penutupan dan pembukaan valve bertahap guna mempersempit area kebocoran dan menentukan ruas pipa prioritas penanganan.
Monitoring dilakukan secara terstruktur melalui koordinasi antara tim pendamping dan tim internal NRW, sehingga setiap temuan lapangan dapat langsung dianalisis dan ditindaklanjuti.
Setelah proses diagnostik awal serta monitoring dan identifikasi lapangan dilakukan, tahap selanjutnya dalam proyek ini adalah kegiatan mitigasi dan implementasi teknis. Tahap ini berfokus pada penerapan solusi nyata di lapangan untuk menekan kehilangan air, meningkatkan kendali operasional, serta menjaga stabilitas sistem distribusi air minum. Pelaksanaan mitigasi teknis dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
Tujuan
Membagi jaringan distribusi ke dalam zona terukur untuk memudahkan pemantauan debit, tekanan, serta identifikasi kehilangan air secara lebih presisi.
Ruang Lingkup Kegiatan
Pembentukan DMA dilakukan dengan mengisolasi sub-zona pelayanan melalui pengaturan valve dan pemutusan jalur pipa tertentu, serta pemasangan meter distrik dan alat ukur tekanan pada titik strategis. Proses ini didasarkan pada analisis hidrolis jaringan distribusi dan kondisi lapangan eksisting.
Dampak Teknis
Pemantauan kehilangan air berbasis zonasi
Mempercepat identifikasi area kebocoran
Meningkatkan akurasi pengendalian NRW
Tujuan
Mengendalikan kebocoran fisik secara aktif dan sistematis dengan biaya yang efektif dan pendekatan berbasis data lapangan.
Ruang Lingkup Kegiatan
ALC dilakukan melalui perencanaan terintegrasi yang melibatkan tim internal NRW, dengan fokus pada identifikasi kebocoran menggunakan data debit dan tekanan serta verifikasi langsung di lapangan.
Dampak Teknis
Deteksi kebocoran lebih cepat dan terarah
Pengurangan kebocoran tanpa menunggu kerusakan besar
Efisiensi penggunaan sumber daya operasional
Tujuan
Mempersempit area pencarian kebocoran dan menentukan ruas pipa dengan kehilangan air tertinggi.
Ruang Lingkup Kegiatan
Step test dilakukan pada area DMA terpilih dengan metode penutupan dan pembukaan valve secara bertahap pada waktu pemakaian minimum. Setiap perubahan debit dan tekanan dicatat untuk dianalisis sebagai indikasi kebocoran.
Dampak Teknis
Penentuan lokasi bocor lebih presisi
Pengurangan area investigasi kebocoran
Dasar kuat untuk tindakan perbaikan pipa
Tujuan
Mengendalikan tekanan jaringan agar tetap berada dalam rentang aman dan sesuai standar pelayanan, sekaligus menurunkan potensi kebocoran.
Ruang Lingkup Kegiatan
Dilakukan pengaturan ulang (resetting) Pressure Reducing Valve (PRV) diameter 4” dari tekanan outlet 1 bar menjadi 0,5 bar, serta evaluasi distribusi tekanan pada titik kontrol untuk mencegah overpressure.
Dampak Teknis
Penurunan risiko kebocoran akibat tekanan berlebih
Stabilitas tekanan jaringan meningkat
Perlindungan jangka panjang terhadap infrastruktur pipa
Tujuan
Menemukan kebocoran fisik pada area jaringan dengan tekanan tinggi yang berisiko mengalami kehilangan air signifikan.
Ruang Lingkup Kegiatan
Pencarian kebocoran dilakukan melalui inspeksi visual, pelaporan cepat dari lapangan, serta penelusuran jaringan pada ruas-ruas dengan tekanan tinggi yang terindikasi bermasalah berdasarkan hasil monitoring.
Dampak Teknis
Deteksi dini kebocoran kritis
Pengurangan potensi kerusakan jaringan lanjutan
Peningkatan keandalan distribusi air
Implementasi Program Kemitraan dilaksanakan dalam kerangka Kemitraan Solidaritas PERPAMSI, yang menekankan kolaborasi antar Perumda Air Minum melalui pendampingan teknis langsung, berbagi pengalaman lapangan, serta penerapan praktik terbaik (best practice) dalam pengelolaan NRW.
Kolaborasi on-site antara tim pendamping dan tim internal NRW dalam pelaksanaan monitoring, pengukuran debit–tekanan, serta identifikasi kebocoran secara langsung di jaringan distribusi.
Sinergi antara Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang dan Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi dalam penerapan strategi penurunan NRW berbasis praktik terbaik.
Implementasi pembentukan DMA, Active Leakage Control, dan step test dilakukan secara kolaboratif untuk memastikan pemahaman teknis yang menyeluruh dan aplikatif.
Pembelajaran teknis dilakukan melalui kasus lapangan aktual, sehingga metode yang diterapkan mudah direplikasi dan disesuaikan dengan kondisi jaringan setempat.
Diskusi dan evaluasi hasil monitoring dilakukan secara bersama untuk menyelaraskan analisis teknis dan pengambilan keputusan tindak lanjut.
Peningkatan kemampuan teknis dan operasional tim internal dalam pengelolaan NRW secara mandiri dan berkelanjutan setelah program kemitraan selesai.
Pelaksanaan kegiatan monitoring, mitigasi, dan implementasi teknis dalam proyek ini menghasilkan temuan lapangan yang terukur serta memberikan dasar kuat bagi pengendalian kehilangan air (NRW) secara berkelanjutan. Seluruh hasil diperoleh dari pengukuran debit dan tekanan, pelaksanaan step test, serta evaluasi kondisi jaringan distribusi di area proyek.
Sebelum pelaksanaan program pendampingan, kondisi jaringan distribusi dan pengelolaan NRW menunjukkan beberapa keterbatasan, antara lain:
Setelah implementasi program pendampingan, terjadi peningkatan signifikan dalam pengelolaan jaringan distribusi, antara lain:
Hasil project tidak hanya berupa identifikasi permasalahan, tetapi juga konfirmasi efektivitas pendekatan teknis yang diterapkan melalui pembentukan DMA, Active Leakage Control, dan pengelolaan tekanan jaringan.
Program pendampingan penurunan NRW ini memberikan dampak nyata tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga pada peningkatan kualitas pengelolaan jaringan distribusi air minum secara keseluruhan. Dampak program terlihat dari perubahan pendekatan operasional, peningkatan akurasi pengambilan keputusan, serta kesiapan sistem untuk pengelolaan NRW yang berkelanjutan. Dampak utama yang dihasilkan dari program ini meliputi:
1.
2.
3.
4.
Pendekatan berbasis data lapangan yang diterapkan dalam program ini memungkinkan Perumda Air Minum untuk beralih dari pola penanganan reaktif menjadi pengelolaan jaringan yang lebih preventif dan terukur.
Keberhasilan program pendampingan penurunan NRW ini tidak terlepas dari kombinasi strategi teknis yang tepat, kolaborasi yang efektif, serta pendekatan berbasis data lapangan. Seluruh kegiatan dirancang dan dilaksanakan secara terstruktur sehingga setiap tahapan saling mendukung dan menghasilkan output yang terukur. Berikut adalah faktor-faktor utama yang berperan dalam keberhasilan pelaksanaan program:
Seluruh tindakan teknis didasarkan pada hasil pengukuran debit, tekanan, serta temuan lapangan, sehingga solusi yang diterapkan bersifat tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Penerapan District Meter Area (DMA) memungkinkan pemantauan kehilangan air berbasis zonasi, mempercepat identifikasi area bermasalah, dan meningkatkan efektivitas pengendalian NRW.
Keterlibatan langsung tim pendamping bersama tim internal NRW dalam seluruh tahapan kegiatan memastikan transfer pengetahuan berjalan optimal dan implementasi metode teknis dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Penggabungan analisis hidrolis, monitoring lapangan, dan tindakan teknis (ALC, step test, manajemen tekanan) menghasilkan pendekatan yang komprehensif dan minim trial & error.
Adanya proses evaluasi hasil dan penyusunan rekomendasi teknis yang jelas memastikan bahwa program tidak berhenti pada temuan, tetapi berlanjut pada perbaikan berkelanjutan.
Sebelum pelaksanaan program pendampingan, pengelolaan jaringan distribusi air minum menghadapi sejumlah tantangan utama, antara lain:
Tingginya potensi kehilangan air (NRW) pada jaringan distribusi
Sulitnya mengidentifikasi lokasi kebocoran secara spesifik
Pemantauan debit dan tekanan belum berbasis zonasi terukur
Fluktuasi tekanan jaringan yang berpotensi menyebabkan kebocoran lanjutan
Pendekatan penanganan kebocoran masih bersifat reaktif
Keterbatasan data lapangan sebagai dasar pengambilan keputusan teknis
Permasalahan tersebut berdampak langsung pada efisiensi operasional, keandalan jaringan, serta keberlanjutan pelayanan air minum.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, diterapkan rangkaian solusi teknis yang terintegrasi dan berbasis data lapangan, meliputi:
Pembentukan District Meter Area (DMA) sebagai dasar pengendalian kehilangan air berbasis zonasi
Penerapan Active Leakage Control (ALC) melalui monitoring debit dan tekanan
Pelaksanaan step test untuk mempersempit dan memastikan lokasi kebocoran
Pengelolaan dan pengaturan ulang tekanan jaringan melalui PRV
Pendampingan teknis dan monitoring lapangan secara langsung
Penyusunan rekomendasi tindak lanjut yang aplikatif dan berkelanjutan
Solusi yang ditawarkan tidak hanya menyelesaikan permasalahan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi teknis yang kuat untuk pengelolaan NRW secara berkelanjutan.