Program ini merupakan kegiatan pendampingan penurunan Non-Revenue Water (NRW) yang dilaksanakan melalui skema Kemitraan Solidaritas PERPAMSI, dengan PDAM Kota Malang sebagai mentor dan PDAM Duasudara Kota Bitung sebagai resipien. Pendampingan difokuskan pada penataan sistem distribusi air minum melalui pendekatan berbasis DMA dan instrumentasi jaringan, dengan lokasi pilot project di DMA Kadoodan.
Program ini merupakan kegiatan pendampingan penurunan Non-Revenue Water (NRW) yang dilaksanakan dalam kerangka Program Kemitraan Solidaritas PERPAMSI, dengan fokus pada perbaikan kinerja sistem distribusi air minum PDAM Duasudara Kota Bitung. Pendampingan dilakukan melalui transfer pengalaman dan praktik teknis dari PDAM Kota Malang sebagai mentor, dengan tujuan mendukung penataan sistem distribusi secara lebih terukur dan terkendali.
Pendekatan yang diterapkan dalam program ini berbasis pada pembentukan District Metered Area (DMA), penguatan instrumentasi jaringan, serta kegiatan monitoring dan evaluasi tekanan serta aliran. Pilot project difokuskan pada DMA Kadoodan, yang dipilih berdasarkan tingkat kehilangan air yang tinggi dan keterbatasan kontinuitas pelayanan.
Melalui kegiatan pendampingan ini, fokus perbaikan diarahkan pada peningkatan kontinuitas aliran, pengendalian tekanan jaringan, serta penurunan kehilangan air secara bertahap, sebagai dasar pengelolaan sistem distribusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Bagian ini menjelaskan kondisi awal pengelolaan sistem distribusi air di PDAM Kota Malang yang dijadikan sebagai referensi dalam kegiatan pendampingan penurunan kehilangan air (NRW), berdasarkan data dan pengalaman operasional sebelum dilakukan penataan sistem secara bertahap. PDAM Kota Malang pernah menghadapi tantangan dan kondisi ini:
Kondisi tersebut diperberat dengan cakupan jaringan pipa transmisi dan distribusi yang sangat luas, melayani sekitar ±152.000 sambungan rumah dengan panjang jaringan perpipaan mencapai ±3.000 km. Menghadapi kompleksitas tersebut, PDAM Kota Malang kemudian mengembangkan sistem pengelolaan kehilangan air secara bertahap dan terstruktur sebagai dasar peningkatan kinerja distribusi dan pelayanan air minum.
Struktur Organisasi NRW dirancang untuk memastikan pengendalian kehilangan air berjalan secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan. Setiap fungsi memiliki peran yang saling terintegrasi, mulai dari perencanaan strategis, pengelolaan jaringan distribusi, analisis neraca air, hingga penanganan kebocoran fisik dan komersial. Melalui pembagian tugas yang jelas dan koordinasi lintas fungsi, organisasi NRW mampu meningkatkan efisiensi distribusi air, menjaga keandalan pelayanan, serta mendukung pencapaian target penurunan NRW secara berkesinambungan.
Berdasarkan hasil evaluasi awal sebelum pelaksanaan program pendampingan, DMA Kadoodan sebagai lokasi pilot project menunjukkan kondisi operasional yang belum optimal dan tingkat kehilangan air yang sangat tinggi. Temuan ini menjadi dasar penetapan DMA Kadoodan sebagai area prioritas dalam program penurunan Non-Revenue Water (NRW). Beberapa kondisi utama yang teridentifikasi di lapangan meliputi:
1.
Tingkat NRW sangat tinggi, dengan nilai mencapai sekitar ±70%, yang mengindikasikan besarnya kehilangan air baik secara teknis maupun non-teknis.
3.
4.
5.
Kondisi eksisting tersebut menggambarkan perlunya penataan sistem distribusi secara menyeluruh melalui pendekatan DMA, instrumentasi jaringan, serta pengendalian tekanan dan aliran sebagai langkah awal penurunan NRW di wilayah pelayanan DMA Kadoodan.
Sebagai tindak lanjut dari hasil diagnostik awal, dilakukan kegiatan monitoring dan identifikasi kondisi jaringan distribusi pada wilayah DMA Kadoodan untuk memperoleh gambaran teknis yang lebih akurat dan terukur. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola tekanan, aliran, serta titik-titik kritis yang berpengaruh terhadap kontinuitas pelayanan dan tingkat kehilangan air.
Monitoring tekanan dilakukan pada jalur Jaringan Distribusi Utama (JDU) Ø150 mm Zona Kadoodan, dengan pengukuran dimulai dari Reservoir Danowudu hingga menuju Booster Pump Kadoodan. Pengukuran dilakukan secara bertahap untuk mengetahui perubahan tekanan di sepanjang jalur distribusi serta mengevaluasi kinerja sistem eksisting. Hasil monitoring dan identifikasi lapangan menunjukkan beberapa temuan utama sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
Temuan-temuan tersebut menjadi dasar dalam penentuan langkah mitigasi teknis, termasuk penataan aliran, pemasangan instrumentasi tambahan, serta penyesuaian sistem distribusi untuk mendukung pembentukan dan pengoperasian DMA secara efektif.
Berdasarkan hasil monitoring dan identifikasi lapangan pada wilayah DMA Kadoodan, dilakukan serangkaian kegiatan mitigasi dan implementasi teknis untuk memperbaiki kinerja sistem distribusi air minum serta mendukung penurunan tingkat kehilangan air secara bertahap. Kegiatan ini difokuskan pada penataan jalur distribusi, peningkatan instrumentasi jaringan, dan pengendalian aliran air. Pelaksanaan mitigasi teknis dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
Tujuan
Mendukung pembersihan jaringan serta memudahkan pengurasan dan pengendalian aliran pada jalur distribusi.
Ruang Lingkup Kegiatan
Pembuatan wash out dan bran kran dilakukan pada titik-titik strategis yang direkomendasikan berdasarkan hasil monitoring tekanan dan kondisi lapangan.
Dampak Teknis
Mempermudah proses flushing jaringan
Mengurangi potensi endapan dalam pipa
Meningkatkan kendali operasional distribusi air
Tujuan
Mengurangi gangguan aliran akibat endapan dan memastikan kualitas distribusi air pada jalur utama.
Ruang Lingkup Kegiatan
Dilakukan sterilisasi pada jalur Jaringan Distribusi Utama (JDU) Ø150 mm sebagai bagian dari penataan awal sistem distribusi.
Dampak Teknis
Aliran air menjadi lebih lancar
Penurunan potensi kehilangan akibat hambatan internal
Meningkatkan efektivitas distribusi ke wilayah pelayanan
Tujuan
Memungkinkan pemantauan tekanan jaringan secara akurat dan berkelanjutan.
Ruang Lingkup Kegiatan
Manometer dipasang pada titik-titik strategis jaringan untuk membaca tekanan operasional sebelum dan sesudah dilakukan pengaturan aliran.
Dampak Teknis
Memberikan data tekanan real-time
Menjadi dasar evaluasi kinerja jaringan
Mendukung pengambilan keputusan teknis berbasis data
Tujuan
Mengurangi akumulasi udara dalam pipa yang dapat menghambat aliran dan menyebabkan fluktuasi tekanan.
Ruang Lingkup Kegiatan
Pemasangan air release manual dilakukan pada jalur transmisi yang belum memiliki fasilitas pelepas udara.
Dampak Teknis
Aliran air lebih stabil
Tekanan jaringan lebih terkendali
Mengurangi risiko kerusakan akibat udara terjebak
Tujuan
Menstabilkan distribusi air ke wilayah pelayanan melalui pengendalian aliran yang lebih terukur.
Ruang Lingkup Kegiatan
Dilakukan penyesuaian pola aliran menuju booster pump berdasarkan hasil monitoring tekanan dan debit.
Dampak Teknis
Distribusi air menjadi lebih stabil
Mendukung peningkatan kontinuitas pelayanan
Menjadi dasar pengoperasian DMA secara optimal
Pelaksanaan program pendampingan penurunan Non-Revenue Water (NRW) di PDAM Duasudara Kota Bitung merupakan bagian dari Program Kemitraan Solidaritas PERPAMSI, yang tidak hanya berfokus pada intervensi teknis, tetapi juga pada penguatan sistem pengelolaan distribusi air minum secara menyeluruh. Implementasi program dilakukan melalui kolaborasi aktif antara mentor dan resipien, dengan pendekatan pembelajaran langsung di lapangan.
Sebagai bagian dari implementasi program kemitraan, dilaksanakan beberapa kegiatan utama yang terintegrasi, meliputi:
Survey dilakukan pada jalur transmisi dan distribusi wilayah pelayanan Kumersot – Tewaan – Danowudu, mencakup penelusuran jalur pipa, identifikasi titik tapping pelanggan, serta pengecekan kondisi fisik jaringan.
Pemasangan dan penyetelan PRV dilakukan berdasarkan hasil monitoring tekanan untuk memastikan tekanan operasional berada pada rentang yang aman dan terkendali.
Pengadaan dan pemasangan air valve dilakukan pada titik-titik strategis jaringan distribusi untuk mendukung kegiatan operasional dan pemeliharaan.
Anticipating valve dipasang sebagai bagian dari sistem proteksi jaringan untuk mengantisipasi perubahan tekanan mendadak akibat perubahan operasi sistem.
Penyusunan peta GIS mencakup pemetaan jalur pipa, lokasi valve, PRV, serta batasan DMA Kadoodan.
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan data NRW sebelum dan setelah implementasi program pada wilayah DMA Kadoodan.
Pelaksanaan program pendampingan penurunan Non-Revenue Water (NRW) pada DMA Kadoodan menunjukkan perubahan kinerja sistem distribusi yang signifikan. Melalui penerapan pendekatan berbasis DMA, pengendalian tekanan, serta penguatan instrumentasi jaringan, terjadi peningkatan nyata pada efisiensi distribusi dan kontinuitas pelayanan air minum.
Tingkat NRW mencapai sekitar ±70%
Pelayanan air terbatas, ±2 jam per hari
Tekanan jaringan tidak stabil
Pengendalian aliran dan monitoring masih terbatas
Sistem distribusi belum terzonasi secara efektif
Tingkat NRW turun menjadi sekitar 7,5%
Pelayanan air meningkat menjadi ±20 jam per hari
Tekanan jaringan lebih stabil dan terkendali
Sistem distribusi berbasis DMA Kadoodan telah terbentuk
Monitoring dan evaluasi jaringan dapat dilakukan secara lebih terukur
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa penerapan pengelolaan distribusi berbasis DMA yang didukung oleh instrumentasi dan monitoring yang memadai dapat memberikan dampak signifikan terhadap penurunan kehilangan air dan peningkatan kualitas pelayanan.
Pelaksanaan program pendampingan penurunan Non-Revenue Water (NRW) di PDAM Duasudara Kota Bitung memberikan dampak yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperkuat aspek pengelolaan, kapasitas sumber daya manusia, serta keberlanjutan program pengendalian kehilangan air. Dampak utama yang dihasilkan dari program ini meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
Dampak-dampak tersebut menunjukkan bahwa program pendampingan tidak hanya menghasilkan perbaikan jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pengelolaan sistem distribusi air minum yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Keberhasilan pelaksanaan program pendampingan penurunan Non-Revenue Water (NRW) di PDAM Duasudara Kota Bitung tidak terlepas dari kombinasi faktor teknis, sumber daya manusia, serta dukungan manajerial. Berdasarkan evaluasi dan pengalaman selama pendampingan, terdapat beberapa faktor kunci yang berperan penting dalam mendukung pencapaian hasil program. Faktor-faktor keberhasilan tersebut antara lain:
Tersedianya sumber daya manusia yang aktif dan bersemangat, khususnya dari kalangan staf muda,
dengan kemauan tinggi untuk belajar serta beradaptasi terhadap pendekatan dan metode kerja baru.
Adanya sikap terbuka dalam mengidentifikasi dan menyampaikan permasalahan eksisting,
sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara objektif dan tepat sasaran.
Kesungguhan seluruh tim dalam mengikuti proses pendampingan, termasuk keterlibatan aktif
dalam diskusi teknis, kegiatan lapangan, serta kunjungan pembelajaran ke PDAM Kota Malang.
Konsistensi dalam menindaklanjuti setiap rekomendasi teknis yang diberikan,
sehingga hasil evaluasi dapat segera diimplementasikan secara nyata di lapangan.
Dukungan penuh dari manajemen dan pemangku kepentingan terkait,
yang memungkinkan program berjalan secara lancar, terkoordinasi,
dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi penerapan pengelolaan distribusi berbasis DMA, serta menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan hasil program di masa mendatang.
Sebelum pelaksanaan program pendampingan, PDAM Duasudara Kota Bitung menghadapi tantangan utama dalam pengelolaan sistem distribusi air minum, khususnya pada wilayah DMA Kadoodan. Permasalahan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan tingginya tingkat kehilangan air, tetapi juga mencerminkan keterbatasan dalam pengendalian dan pemantauan sistem distribusi secara menyeluruh.
Beberapa permasalahan utama yang teridentifikasi meliputi tingginya Non-Revenue Water (NRW), ketidakstabilan tekanan jaringan, serta kontinuitas pelayanan air yang masih terbatas. Kondisi ini diperparah oleh sistem distribusi yang belum terzonasi secara optimal, keterbatasan instrumentasi jaringan, serta belum tersedianya sistem monitoring yang memadai sebagai dasar pengambilan keputusan teknis dan manajerial.
Sebagai respon atas permasalahan tersebut, program pendampingan dirancang dengan pendekatan berbasis data dan sistem, melalui penerapan District Metered Area (DMA) sebagai fondasi pengelolaan distribusi air minum. Solusi yang ditawarkan tidak hanya berupa intervensi teknis, tetapi juga mencakup penguatan sistem operasional dan kapasitas sumber daya manusia.
Solusi yang diterapkan meliputi diagnostik lapangan yang terukur, pengendalian tekanan melalui pemasangan dan penyetelan perangkat jaringan, peningkatan instrumentasi dan monitoring, serta pendampingan langsung dalam implementasi dan evaluasi kinerja sistem distribusi. Pendekatan ini memungkinkan penurunan NRW secara signifikan, peningkatan kontinuitas pelayanan, serta terciptanya sistem pengelolaan distribusi yang lebih terkendali dan berkelanjutan.